Jul
28
2009

adalah pengalaman seru incip2 makanan baru di tempat baru. surabaya memang punya reputasi luar biasa soal bebek goreng, tapi di jakarta aku sempat ngalami olahan bebek baru: bebek yg dimasak dg cabai ijo.
lokasinya di green pepper, food court di basementnya mall fx, sudirman.
bebeknya digoreng biasa sih sebenernya, tapi kondimennya terasa kaya, memancarkan segala spektrum rasa. cabai ijo di sajian ini terasa punya nuansa seperti cabai ijonya masakan padang, yg secara mengejutkan bisa dipasangkan harmonis dg asin gurihnya gorengan bebek. fakta menarik yg herannya kok orang surabaya belom ada jualan olahan demikian.
kondimen lainnya, ada sambel merah yg sentakan pedasnya membakar rongga mulut. kemudian dibanting lagi dg sambel pencit yg kecut menyegarkan. plus, ada lagi racikan bumbu yg seperti mengandung parutan kelapa, gurih. si yogi rupanya berhasil menciptakan roller coaster kuliner.
dan sbg faktor penyeimbangnya, ditambah pula daun selada dan potongan timun. lalapan beginian biasanya aku konsumsi belakangan sbg penutup.
yah, sbg pemerhati bebek goreng, aku nggak bisa bilang bebek cabai ijo ini sajian bebek paling nikmat yg aku pernah alami. sekedar berhasil memperluas wawasan perbebek’an. agak pricey juga makan bebek di mall, di jakarta pula. 26.818 rupiah untuk bebeknya, dan 5.454 rupiah sekedar untuk sepiring nasi putih. dan tentu saja plus tax 10%. sehingga total kerusakan = 35.499 rupiah.
verdict: recommended. tapi untuk diincipi sekali saja, nggak menarik untuk dikunjungi lagi, kecuali ada yg traktir.
Jun
24
2009


Beberapa waktu lalu sempat sarapan indomie di warung bubur kacang ijo. Mie-nya biasa, tapi es teh-nya menarik. Biasa sih, tapi buat aku menarik, hehe.
Es teh disajikan dg kristal gula tidak teraduk di pantat gelas. Sehingga dg demikian kadar kemanisan teh bisa di-custom sesuai selera peminum. Kalo nggak suka terlalu manis ya langsung diminum saja, kalo mau agak manis diaduk dulu gumpalan gulanya, kalo suka full manis ya diaduk sampek larut sempurna.
Ini unik, soalnya pelanggan dg tipe gimana pun cocok minum teh di warung situ. Sayang, bisa jadi agak boros di produksinya. Karena ketika dapet pelanggan yg nggak suka manis, warung akan tetep menyediakan gula secara penuh di dalem gelas, dan kemudian nggak diminum, dan kemudian dibuang.
Aku pikir akan lebih efisien apabila gula disediakan di meja dalam toples kecil gitu. Seperti saos tomat/sambel dan kecap. Yg bisa diambil sesuai kebutuhan. Tapi kalo nggak butuh nggak akan terbuang percuma.
Btw, hal demikian nggak cuman terjadi di kasus es teh manis aja. Banyak template dan standard operational procedure yg sering dikonsep supaya pekerjaan terselesaikan dg beres, tapi tidak teroptimasi secara efisien. Animator misalnya, ada yg suka ngimport koleksi functions dari file .as, padahal belum tentu semua script canggih itu diperlukan. Tambah lagi tumpukan symbols di librarynya. Hasilnya, memang bener swf-nya terpublish sempurna seperti yg diharapkan. Cuman kadang agak gendut aja jadinya, makan resource di produksi.
Nggak penting.
Kalo kamu, suka minum teh dg banyak gula atau sebaliknya?
May
22
2009

eh apa yg terjadi dengan zangrandi? kok rata dg tanah, cuman tersisa papan nama saja? semoga sejarah tempat jajan es grim sejak 1930 itu nggak berakhir di tahun 2009. setelah beberapa tahun lalu surabaya kehilangan cafe venezia di pojokan jaksa agung suprapto – ambengan, semoga zangrandi nggak katut buyar pisan.

mungkin cuman proyek renovasi buat bikin kedai baru yg lebih madju.
update: 31 mei 2009 aku lewat situ lagi, ternyata zangrandi sudah jualan lagi
Apr
15
2009
mendadak nyebrang ke madura beberapa waktu lalu bersama zam dan mas iman. duluuu… pernah ke madura juga, tapi cuman mampir nengok bangkalan sebentar aja. nah kunjungan kemaren sempat menjelajah sampek ujung timur, sumenep. dan nemu beberapa fakta menarik, beberapa diantaranya:
banyak sekali nemu makam & lapangan voli di sepanjang jalur pesisir madura (jalur utara dan selatan). kenapa voli? kok bukan lapangan sepak bola? nggak tau. btw jalur pantai utara madura sebenernya menarik buat dipake kebut2an, sayang ada sejumlah checkpoint penduduk lokal bikin chicane buat minta sumbangan.
fakta lain adalah nggak ada bioskop. orang madura lebih suka nonton vcd/dvd sendiri di rumah? dan kalo secara arsitektur, bangunan2 tua di madura ternyata mirip dg bangunan di solo. soal ini zam lebih paham. tapi fakta/kejutan yg paling asik adalah soal kuliner:
bahwa nasi di madura itu tersaji agak kering, nggak punel seperti nasinya hokben, itu orang sudah pada tau. tapi kalo bicara rawon di madura, ha!

sama sekali nggak kebayang ngincipi rawon kayak gini waktu kita mampir di warung pinggir jalan. buat orang surabaya, rawon yg normal itu tampil gelap gurih dg unsur keluwek di dalamnya. di madura, rawon adalah usus, paru, dan daging sapi yg tergoreng well done, ditambah kuah bening di mangkuk terpisah. plus, yg jadi ciri madura adalah kondimen sejumput serundeng di pojok piring.
mengejutkan buat kamu2 yg peduli kolesterol. tapi karena terlanjur order dan tersaji di meja, yo sikat ae lah… *memperkaya pengalaman*
Dec
25
2008

hehe warung ini memang agak beda dg warung2 bebek lain. biasanya kan cuman pake 1 harga standard, kalo disini bebek goreng dijual dlm 3 pilihan harga/ukuran. harga sembilan ribu rupiah untuk satu potong bebek goreng kelas pinggir jalan memang ndak mufakat, ndak bisa dibilang murah meriah. tapi kalo sudah ngincipi, pasti orang akan setuju dg harga segitu karena rasanya yg memang luar biasa, daging bebeknya empuk, lapisan lemaknya tebel, sambelnya puedes, pokoknya finger licking good, die die must try!
http://mimimama.blogspot.com/2006/08/bebek-goreng-papin.html