tentang omni dan ibu prita dan segala ribut ributnya…

rame2 beberapa hari ini tentang gugatan rumah sakit omni pd ibu prita soal pencemaran nama baik mengingatkan saya pd kasus serupa beberapa tahun lalu. tapi situasi ditangani dg cara yg berbeda.
eh btw kalo misalnya masih belum nangkep situasinya omni vs prita ini, monggo silakan baca2 dulu arsipnya disini.
—
dulu, m fahmi aulia pernah punya pengalaman buruk dg sepatu edward forrer. kecewa, dia menginjak injak edward forrer di blog (yg blog itu terbaca langsung oleh publik dan bukan sekedar curhat via imel yg ditujukan ke kalangan tertentu). tapi merespon publikasi panas di blog itu, edward forrer bukannya bersikap defensif ato malah bikin ribut. pintarnya edward forrer malah memanfaatkan kritik itu sbg jembatan pr secara cerdik. nggak cuman beruntung bisa merevisi kualitas produknya, tapi juga ndongkrak reputasi pelayanannya pisan.
lengkapnya cerita tentang m fahmi aulia dan sepatu edward forrer bisa dibaca2 di arsip blognya.
—
lha, kembali ke kasus omni vs prita, nggak ngerti apa yg ada di benak manajemen omni sekarang ini. njeglek pol. membawa kasus ini ke pengadilan jelas mengeluarkan banyak effort, dan parahnya malah merusak reputasi rumah sakit. semakin rame, semakin orang benci pd omni. mungkin yg sekarang terpikir cuman menyelamatkan ego.
—
di situasi macem gini, jalan keluar seperti apa yg mungkin masuk akal?
misalnya saya ini berada di posisi juragan ato pemilik rumah sakit omni, saya akan pecat siapa pun itu pihak manajemen atau corong rumah sakit yg bertanggung jawab menangani tugas pr. karena kesalahannya bikin blunder serius. berikutnya gantikan posisi pr dg pribadi lain yg lebih manis omongannya. suruh pr baru untuk mengakui kesalahan dalam konteks merespon kekecewaan pasien dan minta maaf tentu saja. apabila perlu, limpahkan kesalahan pd pr lama. ya nanti kalo situasi udah adem, kalo mau rekrut kembali orang lama karena dekat ya terserah.
penanganan situasi macem ini pernah dipake martin withmarsh, bos mclaren mercedes pd kasus kebohongan yg melibatkan pembalap lewis hamilton dan race engineernya (nama race engineernya sapa ya? lupa). kebohongan itu sebenernya nggak banyak pengaruh pd perolehan poin mclaren pd kompetisi musim ini, tapi jadi masalah serius soal reputasi sport secara umum. mclaren kemudian pecat itu race engineer, bilang itu kesalahan race engineer bikin keputusan, kalo mclaren-nya sendiri suci nggak suka berbohong. kemudian mclaren ngirim surat resmi soal permohonan maaf pd FIA. dg demikian pengadilan memutuskan penangguhan hukuman, atau secara implisit ‘memaafkan’ mclaren.
kredit: gambar diambil dari facebook-nya paman tyo.




